Konsep dan Teori Informasi Komunikasi
Studi komunikasi
dewasa ini telah banyak melahirkan berbagai macam teori yang masing-masing
memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri. Ada banyak teori tentang
komunikasi. Berdasarkan kurun waktu dan pemahaman atas makna komunikasi, teori
komunikasi semakin hari berkembang seiring berkembangnya teknologi informasi
yang memakai komunikasi sebagai fokus kajiannya.
Teori komunikasi kontemporer yang merupakan perkembangan dari teori komunikasi klasik melihat fenomena komunikasi tidak fragmatis. Artinya, komunikasi dipandang sebagai sesuatu yang kompleks-tidak sesederhana yang dipahami dalam teori komunikasi klasik.
Pendekatan dalam memahami komunikasi pun tidak hanya mengacu pada teori semata, tetapi juga memperhitungkan mazhab dan model apa yang dipakai. Mazhab yang dipakai antara lain mazhab proses dan semiotika. Namun, dalam paper ini saya tidak membahas teori kontemporer yang dianggap ‘pahlwan revolusioner’, tetapi saya mengajak anda untuk mengkaji lebih detail tentang salah satu teori komunikasi klasik yang dicetuskan oleh Shannon dan Weaver, yaitu teori matematis atau teori informasi yang berkembang setelah perang dunia II . Teori yang termasuk ke dalam tradisi sibernetik ini mengkaji bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada.
Tentunya teori ini memiliki kelebihan dan kelemahan jika dibandingkan dengan teori-teori lainnya. Apakah teori ini masih relevan atau justru sudah tidak dapat disentuh sama sekali. Namun, kita tidak bisa menafikkan kontribusi Shannon dan Weaver dalam memberikan inspirasi ahli-ahli komunikasi berikutnya yang terus mengembangkan teorinya seperti Gerbner, Newcomb, Westley dan MacLean, dan lain-lain.
Teori komunikasi kontemporer yang merupakan perkembangan dari teori komunikasi klasik melihat fenomena komunikasi tidak fragmatis. Artinya, komunikasi dipandang sebagai sesuatu yang kompleks-tidak sesederhana yang dipahami dalam teori komunikasi klasik.
Pendekatan dalam memahami komunikasi pun tidak hanya mengacu pada teori semata, tetapi juga memperhitungkan mazhab dan model apa yang dipakai. Mazhab yang dipakai antara lain mazhab proses dan semiotika. Namun, dalam paper ini saya tidak membahas teori kontemporer yang dianggap ‘pahlwan revolusioner’, tetapi saya mengajak anda untuk mengkaji lebih detail tentang salah satu teori komunikasi klasik yang dicetuskan oleh Shannon dan Weaver, yaitu teori matematis atau teori informasi yang berkembang setelah perang dunia II . Teori yang termasuk ke dalam tradisi sibernetik ini mengkaji bagaimana mengirim sejumlah informasi yang maksimum melalui saluran yang ada.
Tentunya teori ini memiliki kelebihan dan kelemahan jika dibandingkan dengan teori-teori lainnya. Apakah teori ini masih relevan atau justru sudah tidak dapat disentuh sama sekali. Namun, kita tidak bisa menafikkan kontribusi Shannon dan Weaver dalam memberikan inspirasi ahli-ahli komunikasi berikutnya yang terus mengembangkan teorinya seperti Gerbner, Newcomb, Westley dan MacLean, dan lain-lain.
Teori Informasi atau Matematis
1. Konteks Sejarah
Salah satu teori komunikasi klasik yang
sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi
atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude
Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of
Communication.
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.
Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.
Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.
Penjelasan Teori Informasi Secara
Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi
Teori informasi
ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui
saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada
pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver,
dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.
Sinyal Sinyal yang diterima
(Model Komunikasi Shannon dan Weaver)
(Model Komunikasi Shannon dan Weaver)
Jika dianalogikan
dengan pesawat telepon, salurannya adalah kabel, sinyalnya adalah arus listrik
di dalamnya, dan transmitter dan penerimanya adalah pesawat telepon. Dalam
percakapan, mulut adalah transmitternya, sedangkan gelombang suara yang ke luar
melalui saluran udara adalah sinyalnya, dan telinga adalah penerimanya.
Shannon dan Weaver membuat model komunikasi yang dilihat sebagai proses linear yang sangat sederhana. Karakteristik kesederhanaanya ini menonjol dengan jelas. Mereka menyoroti masalah-masalah komunikasi (penyampaian pesan) berdasarkan tingkat kecermatannya.
Sebagaimana yang dipakai dalam teori komunikasi informasi atau matematis, konsep tidak mengacu pada makna, akan tetapi hanya memfokuskan titik perhatiannya pada banyaknya stimulus atau sinyal.
Konsep dasar dalam teori ini adalah entropi dan redundansi-konsep yang dipinjam dari thermodynamics. Kedua konsep ini saling mempengaruhi dan bersifat sebab akibat (kausatif). Di mana entropi akan sangat berpengaruh terhadap redundansi yang timbul dalam proses komunikasi.
Shannon dan Weaver membuat model komunikasi yang dilihat sebagai proses linear yang sangat sederhana. Karakteristik kesederhanaanya ini menonjol dengan jelas. Mereka menyoroti masalah-masalah komunikasi (penyampaian pesan) berdasarkan tingkat kecermatannya.
Sebagaimana yang dipakai dalam teori komunikasi informasi atau matematis, konsep tidak mengacu pada makna, akan tetapi hanya memfokuskan titik perhatiannya pada banyaknya stimulus atau sinyal.
Konsep dasar dalam teori ini adalah entropi dan redundansi-konsep yang dipinjam dari thermodynamics. Kedua konsep ini saling mempengaruhi dan bersifat sebab akibat (kausatif). Di mana entropi akan sangat berpengaruh terhadap redundansi yang timbul dalam proses komunikasi.
Entropi
Entropi adalah
konsep keacakan, di mana terdapat suatu keadaan yang tidak dapat dipastikan
kemungkinannya. Entropi timbul jika prediktabilitas/kemungkinan rendah (low
predictable) dan informasi yang ada tinggi (high information). Sebagai contoh
ada pada penderita penyakit Aids. Pengidap Aids atau yang lebih sering disebut
OHIDA tidak dapat dipastikan usianya atau kapan ia akan dijemput maut. Ada yang
sampai delapan tahun, sepuluh tahun, bahkan sampai dua puluh tahun, masih bisa
menjalani hidup sebagaimana orang yang sehat. Hal ini dikarenakan ajal atau
kematian adalah sebuah sistem organisasi yang kemungkinannya sangat tidak dapat
dipastikan.
Dengan kata lain, semakin besar entropi, semakin kecil kemungkinan-kemungkinannya (prediktabilitas). Informasi adalah sebuah ukuran ketidakpastian, atau entropi, dalam sebuah situasi. Semakin besar ketidakpastian, semakin besar informasi yang tersedia dalam proses komunikasi. Ketika sebuah situasi atau keadaan secara lengkap dapat dipastikan kemungkinannya atau dapat diprediksikan-highly predictable, maka informasi tidak ada sama sekali. Kondisi inilah yang disebut dengan negentropy.
Dengan kata lain, semakin besar entropi, semakin kecil kemungkinan-kemungkinannya (prediktabilitas). Informasi adalah sebuah ukuran ketidakpastian, atau entropi, dalam sebuah situasi. Semakin besar ketidakpastian, semakin besar informasi yang tersedia dalam proses komunikasi. Ketika sebuah situasi atau keadaan secara lengkap dapat dipastikan kemungkinannya atau dapat diprediksikan-highly predictable, maka informasi tidak ada sama sekali. Kondisi inilah yang disebut dengan negentropy.
Redundansi
Konsep kedua yang
merupakan kebalikan dari entropi adalah redundansi. Redudansi adalah sesuatu
yang bisa diramalkan atau diprediksikan (predictable). Karena
prediktabilitasnya tinggi (high predictable), maka informasi pun rendah (low
information). Fungsi dari redundan dalam komunikasi menurut Shannon dan Weaver
ada dua, yaitu yang berkaitan dengan masalah teknis dan yang berkaitan dengan
perluasan konsep redundan itu sendiri ke dalam dimensi sosial.
Fungsi redundansi apabila dikaitkan dengan masalah teknis, ia dapat membantu untuk mengatasi masalah komunikasi praktis. Masalah ini berhubungan dengan akurasi dan kesalahan, dengan saluran dan gangguan, dengan sifat pesan, atau dengan khalayak.
Kekurangan-kekurangan dari saluran (channel) yang mengalami gangguan (noisy channel) juga dapat diatasi oleh bantuan redundansi. Misalnya ketika kita berkomunikasi melalui pesawat telepon dan mengalami gangguan, mungkin sinyal yang lemah, maka kita akan mengeja huruf dengan ejaan yang telah banyak diketahui umum, seperti charlie untuk C, alpa untuk huruf A, dan seterusnya. Contoh lain, apabila kita ingin mengiklankan produk kita kepada masyarakat konsumen baik melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid) ataupun elektronik (radio dan televisi), maka redundansi berperan pada penciptaan pesan (iklan) yang dapat menarik perhatian, sangat simpel, sederhana, berulang-ulang dan mudah untuk diprediksikan (predictable).
Selain masalah gangguan, redundansi juga membantu mengatasi masalah dalam pentransmisian pesan entropik dalam proses komunikasi. Pesan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, lebih baik disampaikan lebih dari satu kali, dengan berbagai cara yang sekreatif mungkin.
Fungsi kreatif redundansi ini juga bila dikaitkan dengan khalayak, akan sangat membantu sekali pada masalah jumlah dan gangguan pesan di dalamnya. Jika pesan yang ingin disampaikan tertuju pada khalayak yang besar dan heterogen, maka pesan tersebut harus memiliki tingkat redundansi yang tinggi, sehingga pesan yang disampaikan akan berhasil dan mudah dicerna. Sebaliknya, jika khalayak berada pada jumlah yang kecil, spesialis, dan homogen, maka pesan yang akan disampaikan akan lebih entropik.
Selain masalah di atas, konsep redundansi juga bisa diperluas hubungannya dengan konvensi dan hubungan realitas sosial masyarakat.
Fungsi redundansi apabila dikaitkan dengan masalah teknis, ia dapat membantu untuk mengatasi masalah komunikasi praktis. Masalah ini berhubungan dengan akurasi dan kesalahan, dengan saluran dan gangguan, dengan sifat pesan, atau dengan khalayak.
Kekurangan-kekurangan dari saluran (channel) yang mengalami gangguan (noisy channel) juga dapat diatasi oleh bantuan redundansi. Misalnya ketika kita berkomunikasi melalui pesawat telepon dan mengalami gangguan, mungkin sinyal yang lemah, maka kita akan mengeja huruf dengan ejaan yang telah banyak diketahui umum, seperti charlie untuk C, alpa untuk huruf A, dan seterusnya. Contoh lain, apabila kita ingin mengiklankan produk kita kepada masyarakat konsumen baik melalui media cetak (koran, majalah, atau tabloid) ataupun elektronik (radio dan televisi), maka redundansi berperan pada penciptaan pesan (iklan) yang dapat menarik perhatian, sangat simpel, sederhana, berulang-ulang dan mudah untuk diprediksikan (predictable).
Selain masalah gangguan, redundansi juga membantu mengatasi masalah dalam pentransmisian pesan entropik dalam proses komunikasi. Pesan yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan, lebih baik disampaikan lebih dari satu kali, dengan berbagai cara yang sekreatif mungkin.
Fungsi kreatif redundansi ini juga bila dikaitkan dengan khalayak, akan sangat membantu sekali pada masalah jumlah dan gangguan pesan di dalamnya. Jika pesan yang ingin disampaikan tertuju pada khalayak yang besar dan heterogen, maka pesan tersebut harus memiliki tingkat redundansi yang tinggi, sehingga pesan yang disampaikan akan berhasil dan mudah dicerna. Sebaliknya, jika khalayak berada pada jumlah yang kecil, spesialis, dan homogen, maka pesan yang akan disampaikan akan lebih entropik.
Selain masalah di atas, konsep redundansi juga bisa diperluas hubungannya dengan konvensi dan hubungan realitas sosial masyarakat.
Redundansi dan Konvensi
Konvensi adalah menyusun suatu pesan dengan pola-pola yang sama. Pengertian sederhananya dapat dipahami sebagai bentuk baku yang telah umum diterima sebagai pedoman. Sebagai contoh, dalam karya sastra lama ada yang disebut dengan pantun. Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra lama (klasik) yang memiliki karakteristik tersendiri. Cirinya antara lain berpola AB AB, artinya bunyi huruf terakhir dari dua baris terakhir pasti sama dengan bunyi dua huruf terakhir dua baris pertama.
Konvensi adalah menyusun suatu pesan dengan pola-pola yang sama. Pengertian sederhananya dapat dipahami sebagai bentuk baku yang telah umum diterima sebagai pedoman. Sebagai contoh, dalam karya sastra lama ada yang disebut dengan pantun. Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra lama (klasik) yang memiliki karakteristik tersendiri. Cirinya antara lain berpola AB AB, artinya bunyi huruf terakhir dari dua baris terakhir pasti sama dengan bunyi dua huruf terakhir dua baris pertama.
Teori informasi
yang dikemukakan Shannon dan Weaver ini banyak menuai kritik . Salah satunya
adalah ia tidak mnjelaskan konsep umpan balik (feedback) dalam model teorinya.
Padahal dalam konsep analogi pesawat telepon yang ia kemukakan, konsep umpan
balik sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Hal ini
dikarenakan teori yang ia kaji hanya melihat komunikasi sebagai fenomena linear
satu arah.
Teori informasi (matematis) yang ia kaji hanya melihat komunikasi dari faktor komunikator yang dominan. Padahal penerima sebagai komunikan pun adalah bagian dari proses komunikasi yang akan terlibat jika konsep umpan balik ia masukkan. Selain itu umpan balik juga justru bisa memberitahukan kegagalan dalam komunikasi. Sebagai contoh, ketika seseorang menelpon dan yang ditelepon tidak melakukan reaksi apapun, atau mungkin sinyal di udara lemah, maka reaksi diam penerima sebenarnya adalah umpan balik bagi sumber atau penelpon.
Selain konsep umpan balik yang tidak diusung dalam teori informasi, sebenarnya, Shannon dan weaver juga tidak mengkaji detil tentang peranan medium (media) dalam teorinya. Ia hanya terfokus pada fungsi saluran atau transmitter. Padahal konsep medium tidak dapat dipisahkan dari konsep transmisi yang ia usung sebelumnya.
Secara garis besar, jika dibandingkan dengan teori kontemporer, misalnya, interaksionisme simbolik, model teori Shannon dan Weaver ini terlalu sederhana. Padahal komunikasi terdiri dari banyak aspek seperti yang dikatakan Schramm sebagai area studi Multidisipliner. Ia akan selalu berkaitan dengan ilmu sosial, psikologi, kejiwaan, teknologi, bahkan perang.
Teori informasi (matematis) yang ia kaji hanya melihat komunikasi dari faktor komunikator yang dominan. Padahal penerima sebagai komunikan pun adalah bagian dari proses komunikasi yang akan terlibat jika konsep umpan balik ia masukkan. Selain itu umpan balik juga justru bisa memberitahukan kegagalan dalam komunikasi. Sebagai contoh, ketika seseorang menelpon dan yang ditelepon tidak melakukan reaksi apapun, atau mungkin sinyal di udara lemah, maka reaksi diam penerima sebenarnya adalah umpan balik bagi sumber atau penelpon.
Selain konsep umpan balik yang tidak diusung dalam teori informasi, sebenarnya, Shannon dan weaver juga tidak mengkaji detil tentang peranan medium (media) dalam teorinya. Ia hanya terfokus pada fungsi saluran atau transmitter. Padahal konsep medium tidak dapat dipisahkan dari konsep transmisi yang ia usung sebelumnya.
Secara garis besar, jika dibandingkan dengan teori kontemporer, misalnya, interaksionisme simbolik, model teori Shannon dan Weaver ini terlalu sederhana. Padahal komunikasi terdiri dari banyak aspek seperti yang dikatakan Schramm sebagai area studi Multidisipliner. Ia akan selalu berkaitan dengan ilmu sosial, psikologi, kejiwaan, teknologi, bahkan perang.
~Tema II
Pesan dan Makna
bermacam-macam
komponen itu yang merupakan komponen dasar komunikasi. Dalam hal ini ada empat
komponen yang cenderung sama yaitu : orang yangmengirimkan pesan, pesan yang
akan dikirimkan, saluran atau jalan yang dilalui pesan dari si pengirim kepada
si penerima, dan si penerima pesan. Karena komunikasi merupakan proses dua arah
atau timbal balik maka komponen balikan perlu ada dalam proses komunikasi.
Dengan demikian, komponen dasar komunikasi ada lima, yaitu : pengirim pesan,
pesan, saluran, penerima pesan dan balikan. Masing-masing komponen tersebut
akan dijelaskan kembali secara ringkas.
1. Pengirim Pesan
Pengirim pesan adalah individu atau orang yang mengirim pesan. Pesan atau informasi yang akan dikirimkan berasal dari otak si pengirim pesan. Oleh sebab itu sebelum pengirim mengirimkan pesan, si pengirim harus menciptakan dulu pesan yang akan dikirimkannya. Menciptakan pesan adalah menentukan arti apa yang akan dikirimkan kemudian menyandikan/encode arti tersebut ke dalam suatu pesan. Sesudah itu baru dikirim melalui saluran.
2. Pesan
Pesan komunikasi dapat
mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah
satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita
menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah
satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa
kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita
berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan.
tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan
komunikasi.
3. Saluran
Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima. Channel
yang biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya dan suara yang dapat kita
lihat dan dengar. Akan tetapi alat dengan apa cahaya atau suara itu berpindah
mungkin berbeda-beda. Misalnya bila dua orang berbicara tatap muka gelombang
suara dan cahaya di udara berfungsi sebagai saluran. Tetapi jika pembicaraan
itu melalui surat yang dikirimkan, maka gelombang cahaya sebagai saluran yang
memungkinkan kita dapat melihat huruf pada surat tersebut. Kertas dan tulisan
itu sendiri adalah sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Kita dapat
menggunakan bermacam-macam alat untuk menyampaikan pesan seperti buku, radio,
film, televisi, surat kabar tetapi saluran pokoknya adalah gelombang suara dan
cahaya. Di samping itu kita juga dapat menerima pesan melalui lat indera
penciuman, alat pengecap dan peraba.
4. Penerima
Pesan
Penerima pesan adalah yang menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang
diterimanya.
5. Balikan
Balikan adalah respons terhadap suatu pesan yang diterima yang dikirimkan
kepada si pengirim pesan. Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim,
pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang dikirimkan tersebut
diinterpretasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim. Bila arti
pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim diinterpretasikan sama oleh si penerima
berarti komunikasi tersebut efektif.
Seringkali respons yang diberikan tidak seperti yang diharapkan oleh si pengirim karena si penerima pesan kurang tepat dalam menginterpretasikan pesan. Hal ini disebabkan oleh adanya factor-faktor dalam diri si penerima yang mempengaruhi dalam pemberian arti pesan seperti telah disebutkan dalam model Berlo.
Seringkali respons yang diberikan tidak seperti yang diharapkan oleh si pengirim karena si penerima pesan kurang tepat dalam menginterpretasikan pesan. Hal ini disebabkan oleh adanya factor-faktor dalam diri si penerima yang mempengaruhi dalam pemberian arti pesan seperti telah disebutkan dalam model Berlo.
~Tema III
Masalah Bahasa dalam Komunikasi
Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif untuk menyampaikan
gagasan,
pikiran, maksud dan tujuan kepada orang lain. Seperti yang dikatakan
oleh Gorys Keraf dan
Abdul Chaer :
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat abitrer, digunakan
oleh
suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama, berkomunikasi dan untuk
mengidentifikasikan diri (1998:1)
Selain itu bahasa merupakan salah satu
aspek dari kebudayaan. Sebagai salah satu
manifestasi kebudayaan, bahasa memiliki peran yang sangat penting bagi
kehidupan manusia.
Dalam setiap kebudayaan bahasa merupakan suatu unsur pokok yang
terdapat dalam
masyarakat. Keanekaragaman bahasa dalam
masyarakat, baik dalam cakupan yang luas
(internasional), maupun bahasa nasional.Kalau kita membuka buku linguistik dari berbagai
pakar bahasa, akan kita jumpai berbagai rumusan mengenai hakikat
bahasa. Rumusanrumusan itu kalau dibutiri akan menghasilkan sejumlah ciri yang
merupakan hakikat bahasa.
Ciri-ciri yang merupakan hakikat
bahasa itu antara lain adalah bahwa bahasa itu adalah
sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif,
dinamis, beragam dan
manusiawi. Yang dimaksud beragam dalam variasi bahasa tersebut ialah,
bahwa bahasa
memiliki banyak bentuk, variasi dan ragam. Ragam bahasa tersebut antara
lain :
1. Ragam bahasa hormat.
2. Ragam bahasa santai/biasa.
3. Ragam bahasa formal.
Universitas Sumatera UtaraBahasa
slang yang merupakan topik utama yang dibahas dalam penelitian ini
merupakan bagian dari ragam bahasa biasa/santai yang tersebut diatas.
Menurut Abdul Chaer
dan Leonie yang dimaksud dengan
slang adalah “ variasi sosial
yang bersifat khusus dan
rahasia” (2004 : 22). Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan
tertentu yang sangat
terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan diluar kelompok itu.
Oleh karena itu, kosa
kata yang digunakan dalam bahasa
slang ini selalu berubah-ubah.
Slang memang lebih
merupakan bidang kosakata daripada bidang fonologi maupun gramatika .
Slang bersifat temporal, dan lebih umum digunakan oleh kaula muda,
meski kaula tua pun
ada pula yang menggunakannya. Karena slang ini bersifat kelompok dan
rahasia, maka
timbul kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasianya para pencopet dan
penjahat, padahal
tidaklah demikian. Faktor kerahasiaan ini menyebabkan pula kosakata
yang digunakan dalam
slang selalu beubah. Dalam hal ini yang disebut bahasa prokem ( lihat
Rahardjo dan Camber
Loir 1988 : 72 ; juga Kawira 1990 : 54 ) dapat dikatagorikan sebagai
slang.[
Setiap bahasa yang terdapat di dunia pasti mengenal dan memliki
keragaman atau
variasi bahasa. Variasi bahasa ialah keragaman bahasa yang terdapat
pada masyarakat tutur
(Kridalaksana 1974 : 134) dan merupakan bahasan pokok dalam bidang
sosiolinguistik.
Dalam hal ini sosiolinguistik berusaha menjelaskan ciri-ciri variasi
bahasa dan menetapkan
korelasi ciri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial
kemasyarakatan. Terjadinya
keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oeh para penuturnya yang
tidak homogen, tetapi karena kegiatan interaksi sosial yang mereka
lakukan sangat beragam.
Dalam hal variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan. Pertama,
dilihat sebagai akibat
adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi
atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman
fungsi bahasa. Kedua, alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang
beraneka ragam.
Pemilihan Bahasa
Dalam penelitian mengenai pemilihan bahasa dalam komunikasi, para ahli
psikologi sosial telah melakukan pendekatan studi komunikasi manusia dari
berbagai pandangan. Para ahli tersebut menyatakan bahwa tidak hanya faktor
sosial yang perlu diambil kira melainkan faktor lainnya yang berhubungan dengan
sumber daya psikologi yang mempengaruhi tindakan individual. Contohnya
keinginan seseorang individu untuk mengindentifikasi dirinya melalui bahasa
dapat menentukan pemilihan bahasa individu tersebut.
Howard Giles (1996) dan kawan-kawan melihat pemilihan bahasa
berhubungan dengan keinginan seseorang individu untuk memperjelas maupun
mengaburkan hubungan dirinya dengan kelompok bahasa tertentu. Ide dasar dari
teori akomodasi adalah bahwa secara umum seorang penutur bahasa akan berupaya
masuk dalam suatu pembicaran (convergence) melalui pemilihan bahasa yang sesuai
dengan keperluan peserta yang terlibat dalam komunikasi. Sebaliknya, apabila
tidak ingin masuk dalam suatu pembicaran (divergence), individu tersebut akan
memutuskan penggunaan bahasa tertentu secara sadar.
Faktor yang mempengaruhi tindakan “convergence” dan “divergence”
tersebut adalah;
1. Peserta komunikasi melihat dirinya apakah
sebagai anggota kelompok yang sama.
2. Mereka akan dipertimbangkan sebagai anggota
kelompok lain.
3. Adanya konflik diantara kelompok-kelompok
tersebut.
4. Jika ada konfliks, masing-masing kelompok
sama-sama menyadarinya.
Metodologi Yang Terlibat Dalam Kajian Pemilihan Bahasa
Kajian mengenai pemilihan bahasa juga melibatkan kontribusi para ahli
Antropologi. Pemilihan bahasa menurut pandangan ahli Antropologi berhubungan
dengan sikap dan nilai budaya yang dilakukan oleh penutur dalam komunitas
multilingualisma. Kebiasaan berbahasa dan demonstrasi nilai-nilai budaya baik
secara tersirat maupun tersurat dapat diamati dan diobservasi. Ahli Antropologi
mengamati informan sesering mungkin dalam situasi yang normal untuk mendapatkan
gambaran sekilas dari kebiasan masyarakat. Metodologi ini disebut dengan
“participant observation” yang memerlukan seorang peneliti itu hidup dikalangan
anggota komunitas yang sedang diteliti serta berpartisipasi langsung dalam
kehidupan sehari-hari.










