Pengertian:
Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.
Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.
Analisis : Komunikasi adalah sebuah cara yang
digunakan sehari-hari dalam menyampaikan pesan/rangsangan(stimulus) yang
terbentuk melalui sebuah proses yang melibatkan dua orang atau lebih. Dimana
satu sama lain memiliki peran dalam membuat pesan, mengubah isi dan makna,
merespon pesan/rangsangan tersebut, serta memeliharanya di ruang publik. Dengan
tujuan sang "receiver" (komunikan) dapat menerima sinyal-sinyal atau
pesan yang dikirimkan oleh "source" (komunikator).
12. Teori Kultivasi
Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi.
III. Lingkup Teori Komunikasi
-Teori - Teori Kontekstual (contextual theories).
Pendekatan:
Menurut Littlejohn,
dalam bukunya "Theories of Human
Communication", secara umum dunia masyarakat ilmiah menurut cara
pandang serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 kelompok atau
aliran pendekatan, yaitu: pendekatan scientific (ilmiah - empiris), pendekatan humanistic (humanoria interperatif), serta pendekatan social
sciences (ilmu - ilmu
sosial).
Aliran
pendekatan scientific umumnya berlaku di kalangan
para ahli ilmu - ilmu eksakta (seperti fisika,
biologi, kedokteran, matematika, dll). Menurut pandangan ini ilmu
diasosiasikan dengan objektivitas. Maksudnya adalah objektivitas yg
menekankan prinsip standarisasi observasi dan konsistensi. Landasan
filosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan
struktur.
Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini
adalah adanya pemisahan yg tegas antara known (objek atau hal yg
ingin diketahui dan diteliti) dan knower (subjek pelaku/pencari
pengetahuan atau pengamat).
Apabila aliran pendekatan scientific mengutamakan
prinsip objektivitas, maka kelompok pendekatan humanistic mengasisiasikan
ilmu dengan prinsip subjektivitas. perbedaan - perbedaan pokok antara
kedua aliran pendekatan ini antara lain sebagai berikut:
- · Aliran scientific, ilmu bertujuan untuk menstandarisasi observasi, sedangkan aliran humanistic mengutamakan kreativitas individual.
- · Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi perbedaan - perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan, sementara aliran humanistic bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif individual.
- · Aliran scientific memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yg berada di sana (out there), di luar diri pengamat/peneliti. Sedangkan aliran humanistic melihat ilmu pengetahuannya sebagai sesuatu yg berada di sini (in here), berarti dalam diri pengamat/peneliti (pemikiran, interpretasi)
- · Aliran scientific memfokuskan perhatiannya pada dunia hasil penemuan (discovered world), sedangkan aliran humanistic menitikberatkan perhatiannya pada dunia para penemunya (discovering person).
- · Aliran scientific berupaya memperoleh konsensus, sementara aliran humanistic mengutamakan interpretasi - interpretasi alternatif.
- · Aliran scientific membuat pemisahan yg tegas antara known dan knower, sedangkan aliran humanistic cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut.
Kelompok aliran yang ketiga adalah pendekatan khusus
ilmu pengetahuan sosial (social
sciences). Pendekatan ini yang diterapkan oleh para pendukung kelompok
aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan -
pendekatan aliran scientific dan aliran humanistik. Pendekatan ilmu sosial merupakan perpanjangan (extension)
dari pendekatan ilmu alam (natural science).
Dipergunakannya dua pendekatan "scientific"
dan "humanistic"
yang masing-masing berbeda prinsip ini, adalah karena yang menjadi objek studi
dalam ilmu pengetahuan sosial adalah kehidupan manusia. Untuk memahami tingkah
laku manusia diperlukan pengamatan yang cermat dan akurat. Sementara itu
pendekatan-pendekatan "humanistic" juga banyak
diterapkan dalam penelitian tentang masalah-masalah komunikasi antar-pribadi,
komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa, dll.
II. Teori Komunikasi
Pada dasarnya teori merupakan ”konseptualisasi” atau penjelasan logis dan empiris tentang suatu
fenomena. Teori memiliki dua ciri umum, pertama semua teori adalah ”abstraksi” tentang suatu hal. Dengan
demikian teori sifatnya terbatas.
Jadi secara sederhana dapat diartikan bahwa teori
komunikasi pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis tentang
fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Peristiwa yang dimaksud
mencakup produksi, porses, dan pengaruh dari sistem-sisstem tanda dan lambang
yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Teori-teori komunikasi antara lain:
1.
Teori Model Lasswell
mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect).
2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi
Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.
3. Teori Informasi atau Matematis
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi.
4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang dicari dari media ditentukan oleh sikap terhadap media. Kepercayaan tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut.
5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect).
2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi
Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.
3. Teori Informasi atau Matematis
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi.
4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang dicari dari media ditentukan oleh sikap terhadap media. Kepercayaan tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut.
5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
6.
Teori Agenda Setting
Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa
Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, dimana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Dapat dirumuskan:
Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa
Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, dimana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Dapat dirumuskan:
*Kognitif, menciptakan atau
menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem
keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.
*Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
*Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan
*Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
*Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan
8.
Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya.
9. Teori The Spiral of Silence
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.
10. Teori Konstruksi sosial media massa
Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge). Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.
11. Teori Difusi Inovasi
Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar.
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya.
9. Teori The Spiral of Silence
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.
10. Teori Konstruksi sosial media massa
Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge). Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.
11. Teori Difusi Inovasi
Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar.
12. Teori Kultivasi
Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi.
Proses
pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan
eksperimental yang lazim dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Menurut
pendekatan ini, biasa disebut hypothetico - deducive method (metode hipotetis - deduktif).
proses
pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut :
Developing
questions (mengembangkan pertanyaan)
Forming
Hypotheses (menyusun
hipotesis)
Testing
the hypoheses (
menguji hipotesis)
Formulating
theory
(memformulasikan teori)
Ada
beberapa patokan yg dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam mengevaluasi
kesahihan teori, yaitu:
*Cakupan Teoretis (theoretical scope). Dengan demikian persoalan pokok di sini
adalah apakah suatu teori yg dibangun memiliki prinsip generality atau
keberlakuan umum.
*Kesesuaian (appropriateness), yakni apakah isi teori sesuai dengan
pertanyaan - pertanyaan / permasalahan - permasalahan teoretis yg diteliti.
*Heuristic. Pertanyaannya adalah apakah
suatu teori yg dibentuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori
- teori lainnya yg berkaitan.
*Validitas (validity) atau konsistensi internal dan eksternal.
Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten
dengan pengamatan. Konsistensi eksternal mempertanayakan apakah teori yg
dibentuk didukung oleh teori - teori lainnya yg telah ada.
*Parsimony (kesederhanaan).
Inti pemikirannya adalah bahwa teori yg baik adalah teori yg berisikan
penjelasan - penjelasan yg sederhana.
Menurut Littlejohn (1989), secara umum
teori - teori komunikasidapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama
disebut kelompok "teori - teori
umum" (general theories). Kelompok kedua adalah kelompok "teori - teori kontekstual" (contextual
theories).
-Teori - Teori Umum (general theories)
Teori
- Teori Fungsional dan Struktural.
Ciri dari jenis teori ini (meskipun istilah
fungsional dan struktural barangkali tidak tepat) adalah adanya kepercayaan
atau pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur yg berada di luar
diri pengamat. Menurut pandangan ini, seorang pengamat adalah bagian dari
struktur. Oleh karena itu cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur
yg berada di luar dirinya.
Teori - Teori Behavioral dan
Cognitive.
Teori
- teori ini merupakan gabungan dari dua tradisi yg berbeda. Asumsinya tentang
hakikat dan cara menentukan pengetahuan juga sama dengan aliran strukturalis
dan fungsional.
Teori - Teori Konvensional dan
Interaksional.
Teori - teori ini berpandangan bahwa kehidupan
sosial meruapakan suatu proses interaksi yg membangun, memelihara serta
mengubah kebiasaan - kebaisaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan
simbol - simbol. Komunikasi, menurut teori ini dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the
glue of society). Kelompok teori ini berkebamng dari aliran pendekatan
"interaksionisme simbolis"
(symbolic
interactionism) sosiologi dan
filsafat bahasa ordiner. Bagi
kalangan pendukung teori - teori ini, pengetahuan dapat ditemukan melalui
metode interpretasi.
Teori - Teori Kritis dan
Interpretif.
Gagasan
- gagasannya banyak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretif (interpretive sociology), pemikiran Max Weber, phenomenology dan hermeneutics, Marxisme dan aliran "Frankfurt School", serta berbagai pendekatan tekstual, seperti teori
- teori retorika, biblical, dan
kesusastraan. Pendekatan kelompok teori ini terutama sekali populer di
negara - neara eropa.
-Teori - Teori Kontekstual (contextual theories).
Komnikasi Intrapribadi (intrapersonal
communication) adalah proses komunikasi yg terjadi dalam diri
seseorang. Yang menjadi pusat perhatian disini adalah bagaimana jalannya proses
pengolahan informasi yg dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya.
Komunikasi Antarpribadi (interpersonal
communication) adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi,
baik yg secara langsung (tanpa medium)
ataupun tidak langsung (melalui medium).
Komunikasi Kelompok (group
communication) memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang
- orang di dalam kelompok - kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan
komunikasi antar pribadi. Teori - trori komunikasi kelompok antara lain membahas tentang dinamika kelompok, efisiensi, dan efektivitas penyampaian informasi
dalam kelompok, pola dan bentuk
interaksi, serrta pembuatan keputusan.
Komunikasi Organisasi (organizational
communication) menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yg terjadi
dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk
- bentuk komunikasi formal dan informal.
Komunikasi Massa (mass communication)
adalah komunikasi melalui media massa yg ditujukan kepada sejumlah khalayak yg
besar. Proses komunikasi massa melibatkan aspek - aspek komunikasi
intrapribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, dan komunikasi
organisasi. Teori komunikasi massa umumnya memfokuskan perhatiannya pada hal -
hal yg menyangkut struktur media, hubungan media dan masyarakat, hubungan antar
media dan khalayak, aspek - aspek budaya dari kmunikasi massa, serta dampak
atau hasil komunikasi massa terhadap individu.
Referensi
:
*Teori-teori Komunikasi .Jalaluddin Rakhmat dan Soejono Trimo.
*Mulyana, Dedy, Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial.
*Teori-teori Komunikasi .Jalaluddin Rakhmat dan Soejono Trimo.
*Mulyana, Dedy, Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial.
*Teori
Komunikasi, Sasa Djuarsa Sendjaja
*sumber-sumber
dari internet

